Bukan sekedar supir
Baiklah, posting pertamaku akan kuisi dengan hal yang baru saja terlintas. Tulisan ini menceritakan seorang supir (entah memang supir atau pegawai yang berbaik hati menyupiri) yang berwawasan sangat luas.
dua hari yang lalu, aku diajak teman kelas memenuhi undangan dari Metro TV sebagai penonton acara provokativ proaktif. Dan karena seharian libur dan hanya berdiam diri di kos, akhirnya aku menyetujui ajakan temanku. Setelah sholat maghrib dan meneguk segelas jus alpukat, aku menuju bendungan STAN dan menunggu cukup lama. Akhirnya mobil jemputanpun tiba. mungkin ada sekitar 10 mobil Metro TV malam itu di parkiran. Tepatnya sih aku tidak tahu. Dan setelah saya pindah dari bangku paling depan dan nyaman, aku duduk di belakang dengan sangat berdempetan dan tidak nyaman. Pusing. Mual.
Setelah perjalanan yang cukup menyiksa kepala dan perut itu, tibalah kami di kantor Metro TV. Cukup besar, tertata, dan lumayan artistik menurutku. Ada lumayan banyak patung-patung model perempuan tanpa busana di tengah dan sudut ruangan dengan berbagai ukuran.
Tak lama kami menunggu sembari meminum teh hangat dan snek yang telah disediakan, kami memasuki studio. Topik obrolannya menyenangkan. beberapa topik yang diulas yaitu mengenai penyanderaan AKP indonesia, pembangunan gedung DPR, sampai anggota DPR yang membuka situs porno saat rapat. Pihak Metro TV pun mengundang wartawan yang mengabadikan foto itu. Perbincangan juga dikemas dalam setting yang sangat menyenangkan. Menyindir betapa uniknya negeri ini.
Pulang dari Metro TV, diantar olehh seorang supir yang WOOOWW.. saat itu aku duduk di bangku tengah. Jadi sedikit-sedikit aku bisa nimbrung di perbincangannya. dan tahukah kamu bahwa supir memiliki pengetahuan yang sangaaaattt luas. kali ini berbeda dengan cerita dosen yang masuk kelas pertama kalinya dan mengaku supir yang ditugaskan untuk memberi tugas kepada mahasiswa karena sang dosen berhalangan hadir. Kali ini mungkin kebalikannya. Seorang pengamat yang mengaku sebagai supir ? mungkin saja.. hahaha
Disana beliau menceritakan berbagai tokoh yang menghiasi layar berita, berkomentar mengenai pejabat negeri, mengenai ormas-ormas yang melakukan tindakan anarkis, mengenai toleransi beragama, mengenai lapangan kerja pajak, mengenai janji pegawai dan menyarankan melakukannya dengan KUHP, bukan dengan Al-Quran. Karena jika kita melanggar bukan hukum yang berada dalam Al-Quran yang kita terima, namun hukum dalam KUHP. Kami diberikan beraneka ragam wejangan untuk memondasi diri dari godaan-godaan luar. Beliau sungguh tak nampak sebagai supir biasa. Dan sampai sekarang aku masih mikir, pasti beliau sebenarnya bukan cuma supi. hohoho
dua hari yang lalu, aku diajak teman kelas memenuhi undangan dari Metro TV sebagai penonton acara provokativ proaktif. Dan karena seharian libur dan hanya berdiam diri di kos, akhirnya aku menyetujui ajakan temanku. Setelah sholat maghrib dan meneguk segelas jus alpukat, aku menuju bendungan STAN dan menunggu cukup lama. Akhirnya mobil jemputanpun tiba. mungkin ada sekitar 10 mobil Metro TV malam itu di parkiran. Tepatnya sih aku tidak tahu. Dan setelah saya pindah dari bangku paling depan dan nyaman, aku duduk di belakang dengan sangat berdempetan dan tidak nyaman. Pusing. Mual.
Setelah perjalanan yang cukup menyiksa kepala dan perut itu, tibalah kami di kantor Metro TV. Cukup besar, tertata, dan lumayan artistik menurutku. Ada lumayan banyak patung-patung model perempuan tanpa busana di tengah dan sudut ruangan dengan berbagai ukuran.
Tak lama kami menunggu sembari meminum teh hangat dan snek yang telah disediakan, kami memasuki studio. Topik obrolannya menyenangkan. beberapa topik yang diulas yaitu mengenai penyanderaan AKP indonesia, pembangunan gedung DPR, sampai anggota DPR yang membuka situs porno saat rapat. Pihak Metro TV pun mengundang wartawan yang mengabadikan foto itu. Perbincangan juga dikemas dalam setting yang sangat menyenangkan. Menyindir betapa uniknya negeri ini.
Pulang dari Metro TV, diantar olehh seorang supir yang WOOOWW.. saat itu aku duduk di bangku tengah. Jadi sedikit-sedikit aku bisa nimbrung di perbincangannya. dan tahukah kamu bahwa supir memiliki pengetahuan yang sangaaaattt luas. kali ini berbeda dengan cerita dosen yang masuk kelas pertama kalinya dan mengaku supir yang ditugaskan untuk memberi tugas kepada mahasiswa karena sang dosen berhalangan hadir. Kali ini mungkin kebalikannya. Seorang pengamat yang mengaku sebagai supir ? mungkin saja.. hahaha
Disana beliau menceritakan berbagai tokoh yang menghiasi layar berita, berkomentar mengenai pejabat negeri, mengenai ormas-ormas yang melakukan tindakan anarkis, mengenai toleransi beragama, mengenai lapangan kerja pajak, mengenai janji pegawai dan menyarankan melakukannya dengan KUHP, bukan dengan Al-Quran. Karena jika kita melanggar bukan hukum yang berada dalam Al-Quran yang kita terima, namun hukum dalam KUHP. Kami diberikan beraneka ragam wejangan untuk memondasi diri dari godaan-godaan luar. Beliau sungguh tak nampak sebagai supir biasa. Dan sampai sekarang aku masih mikir, pasti beliau sebenarnya bukan cuma supi. hohoho
Komentar
Posting Komentar